Tuhan kita ‘sama’

Semarang, 3 Januari 2011.

Karena keterbatasan akal manusia dan manusia merasa ada kekuatan lain selain dirinya, bahkan kekuatan dari ‘sesuatu’ yang tak tampak sekalipun. Telah kita ketahua bersama bahwa ada pemikiran yang menyatakan “kebenaran itu relative” ada juga yang menyatakan bahwa ada “kebenaran yang mutlak”, kemudian kalau kata itu kita tarik pada permasalahan social keagamaan, maka akan terurai bahwa kebenaran dalam konteks social kemanusiaan mungkin benar adakalanya ditemui kebenaran relative, tapi kalau sudah masuk pada ranah agama, maka yang ada hanyalah kebenaran yang mutlak akan kebenarannya, sebab kalau agama diyakini sebagai kebenaran yang mutlak maka kita percaya bahwa semua ajaran agama adalah benar tanpa perlu disanggah lagi, dan nilai-nuilai agama adalah sebuah nuilai yang maha tinggi kedudukannya di antara nilai-nilai yang lain (sebut saja : nilai adapt istiadat, nilai social kemanusiaan dan sebagainya dan sebagainya). oleh karenanya bisa ditarik kesimpulan bahwa seandainya manusia berpegang teguh pada nilai-nilai agama, maka kehidupan dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara sudah pasti akan terjalin dengan baik, tapi ketika manusia berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat belum tentu akan terjadi satu jalinan yang baik, mengingat aturan satu dan yang lainnya dalam ranah social belumlah tentu sama, bahkan kadang menemukan banyak perbedaan dengan latar budaya masing-masing. ini bukan berarti kita berbeda dalam segala hal, tapi perbedaan itu hanyalah perbedaaan adat-istiadat dalam segi social.

 

karena keterbatasn akal juga, maka manusia dalam pencariannuya akan ‘sesuatu’ yang mempunyai kekuatan yang maha, maka manusiapun mengalami berbagai macam cara dalam mencapai pada ‘sesuatu’ itu, yang kemudian sesuatu itu disepakati disebut sebagai “Tuhan”. Dalam pencarian akan Tuhan yang nyata-nyata kasat mata itu maka dengan keterbatasannya manusia menggunakan perantara. di islam ada istilah ilmu Tauhid, yang di dalamnya ada aqoid (qoidah 64 : sifat wajib 20, sifat mustahil 20, sifat jaiz : 1, dan selainnya adalah sifat-sifat para rasulNya) dimbantu keterangan-keterangan dari Al-Quran dan Sunnah sebgai pedoman dari pencarian akan Tuhan. Kemudian di Umat Kristiani ada Tritunggal, dengan patung Jesus Kristus dijadikan sebagai perantara dibantu keterangan-keterangan dari Injil . Terlepas dari itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, yang jelas manusia sangat keterbatasn dengan akal, maka dari itu perbedaan jalan dalam mencari Tuhan adalah sebuah hal yang kemudian mengada. Kalau sudah begini maka bisa disimpulkan pada hakikatnya apakah Tuhannya Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu itu pada hakikatnya sama, hanya saja cara pencariannya yang berbeda yang kemudian mengalami perbedaan juga pada ritual keberagamaannya? Atau Kitabnya berbeda-beda hanya saja Tuirunnya kitab itu pada masa yang berbeda sehingga seharusnya Kitab dan Nabi yang terakhir turunlah yang dianut tanp, karena toh berasal dari Tuhan yang satu, dank arena kitab yang terakhir tutun itulah yang menjadi penyempurna dari kitab terdahulunya? Setidaknya inilah pandangan dari aliran Islam. Atau kalau dilihat dari aspek yang lebih netral, maka bukankah setiap agama menganjurkan hal yang sama, semuanya mengajarkan kebaikan, dan yang membedakakan hanyalah dalam ritualnya saja?

 

Comments are closed.