Ramadhannya orang desa dan orang kota

Tak begitu paham tapi, benar,minimal lebih benar dan lebih khusuk

Semarang, 18 Agustus 2010

Ya, bulan ini adalah bulan ramadhan, dan umat muslim tentunya melaksanakan apa itu puasa, shalat tarawih, dan masih banyak lagi amalan-amalan yang bias menembah pundit-pundi kantong amal kebaikan untuk mendapatkan imbalan kesenangan yang tiada tara, kesenangan yang tidak bias dibayangkan karena begitu tinggi tingkat kesenangan itu, sebuah kesenangan yang bias dimengerti, dirasakan oleh orang yang benar-benar merasakannya nanti di alam sana, yaitu surga yang dijanjikan oleh yang maha segala-galanya terhadap semua selainNya. Tapi begitu ada sisi lain pemandangan yang dapat tertangkap oleh mata kita bahwa orang muslim sekalipun ia tetap enggan berpuasa, entah karena ketidak tahuannya tentang hokum yang memaksanya, entah karena menanggap puasa itu mengganggu aktivitasnya, entah memang ia bias dikategorokan orang yang tidak beriman dan entah- entah yang lainnya yang kesemuanya itu adalah mungkin alasan kenapa ia tidak berpuasa., ini yang pertama.

Kemudian yang kedua, tentunya umat muslim di bylan ramadhan ini punya amalan lagi yang sangat istimewa yaitu shalat tarawih, walau ada mungkin beberapa dan beberapa ynag belum mau, belum tahu dosa, bahkan mungkin belum punya keimanan dan mereka tidak bertarawih.

Dan, tesis kali ini akan menerobos ke dalam bukan pada antara orang islam dan non, bukan antar sesama islam yang berpuasa dan yang tidak, tapi antar orang yang sama-sama berpuasa dalam menjalankan amal ibadahnya, walaupun ini hanya merupakan sedikit perbedaan tapi toh perbedaan ini terlihat, dan ini bukan perbedaan dalam syarit, bukan perbedaan dalam tauhid, tapi ini hanya bentuk kecil dari perbedaan pelaksanaan amal ibadah itu sendiri, yaitu perilaku dalam ibadah antar orang desa dengan perilaku antar orang kota yang notabene lebih melek intelektualitasnya ketimbang orang desa, dan ini bukan persoalan, tapi hanya sebagai bentuk analisa belaka bahwa orang berulmu tinggi toh ia lebih mempermudah amalannya, dan orang yang berpengetahuan sedikit ia sangan berhati-hati dalam melaksanakannya.

Dalam beribadah, kita persempit saja yaitu shalat tarawih, orang desa cenderung lebih teratur jumlah dan tata caranya dari pada orang kota. Bilalnya lebih fasih dan benar-benar runtutdan ini bukan persoalan, sekali lagi ini bukan persoalan, tetapi merupakan bentuk bahwa kalimat “begitu saja gak tahu” dengan “begitu saja dibahas”  ternyata alanmgkah baiknya kita mengambil kalimat yang pertama dalam beribadah.

 

Comments are closed.