Kebaikan sosial dan ketaatan dalam beragama

Kebaikan sosial dan ketaatan dalam beragama

Semarang, 16 Agustus 2010

Tulisan ibi berawal dari orang-orang yang aku temua di berbagai tempat, hingga aku berpikiran seperti halnya yang sekarang aku tulis.

Entah di manapun aku bertemu dengan orang-orang yang kemudian mendatangkan satu tesis untuk aku tulis

 

Aku melihat sosok orang yang jauh dari agama tapi ia begitu baik terhadap kehidupan sosialnya sebagai manusia yang tentunya berinteraksi dengan sesame, interaksi sodialnya baik. Kemudian aku menemukan orang yang berpeci putih atau hitam, berpakaian taqwa islami, atau berjubah dan mereka punya banyak ilmu tentang agama, terkadang  punya murid, dan ibadahnya tekun, baik ibadah wajib maupun ibadah yang sunnah lainnya, tapi kenapa ia aku temui begitu dingin, interaksi sosialnya tidak bagus, bahkan ada yang maaf, tak perduli dengan hal-hal yang bias mendatangkan tidak enak hati orang lain. Tapi ini berlaku kepada semua orang atau kepda orang yang biasa-biasa saja secara ilmu agama dan tentunya bukan kelompok seleelnya.

 

Ah, terkadang aku sangat tidak setuju orang yang begitu. Mungkin iiulah yang menurut pikiran orang biasa seperti aku berpikiran bahwa sayang sekali kalau ilmu menempati orang yang salah, atau kalau bahasa pelaku teologis pesantren mungkin inilah sosok orang  yang ilmunya tidak manfaat.

 

Padahal agama adalah ukuran moralitas tertinggi yang tiada bisa menandingi. Jika orang berpegang teguh kepadanya dan mengamalkan benar apa yang ada dalam tuntunan agama, maka dunia ini tidak akan pernah tertempati oleh orang yang seperti aku diskusikan ini. Orang yang berpegang teguh pada agamanya dan menjalankan dengan benar arah ukhuwah kemanusiaannya, maka ia secara otomatis memiliki apa yang kita kenal dengan moralitas social kemanusiaan, dikarenakan moralitas social keberadaannya di bawah nilai-nilai agama.

 

Kita kenal yang namanya Mahatma Gandhi dari India, Budha Gautama dari India dan lain-lain dan lain-lain, mereka adalah orang yang menjalankan agamanya dengan benar, merealisasikan nilai-nilai agama dan menjelmakanya dalam kehidupannya sehari hari hingga orang –orang kagum dan bahkan menganggapnya sebagai nabi atau Tuhan, seperti halnya Budha Gautama, walaupun menurut pemahaman saya, bahwa Budha hanyalah merupakan pancaran dari sifat Tuhan yang terpancar kepadanya.

 

 

 

 

Comments are closed.