Nasib Manusia

Nasib Manusia

Semarang, 4 Agustus 2010

Kehidupan memang tak mudah untuk ditebak ke mana akan larinya kaki nasib manusia. Ya itulah kehidupan. Tapi bagaimanapun itu, kita musti berusaha wlau ala kadarnya sebagai manusia utuk menggapai nasib yang baik,tentunya nasib yang indah untuk kita rengkuh. Ah tapi terkadang sial, sial adakalanya bersahabat dan mendekati dan akhirnya kita terkena sial. Hidup tak semulus yang kita idam citakan. Tapi itulah hidup, susah untuk kita tebak.
Terkadang kita lupa, akan apa itu tangan kuasa, ada kekuatan yang maha mengendalikan kita tentang bagaimana kita bertemu dengan nasib. Kita hidup enak, susah, sedih sneng , sedih bercampur senang, marah bercampur kasihan, duka bercampur bahagia itu semua karena kita memang terkena garis nasib yang begitu. Tapi apakah ia kita sebagai manusia hanya diberi jatah nasib mentah, tanpa bias memilih dan memilah nasib yang kita inginkan? Ada beberapa paham yang bias kita ambil untuk jadi rujukan untuk menjawab tesis ini. Kita kenal paham yang namanya jabariyah, di mana kita sebagao boneka yang hanya menerima garis nasib daaaaari selain kita. Kemudian kita mengenal yang namanya paham qodariyah, di mana kita bias semau kita menentukan garis nasib yang kita inginkan. Kalau sudah ada dua paham yang kita anut tentunya kita bias memilih mana yang pantas kita pegang dan kita yakini secara rasional akan subsansi, akan pengertian dari paham itu atau kita justru lari dari kedua paham itu atau kita justru menyatukan daari keduanya……….. sedikit kita ambil dua kata berikut “ brusaha” dan “berdoa”. Mari kita sedikit guanakan otak kiri kita barang sejenak untuk memecahkan teka-teki yang baru kita permasalahkan, paling tidak. Apabila kita berusaha maka yakinlah bahwa kita mempunyai kekuasaan penuh bahwa kitalah yang menentukan nasib kita, atau palig tidak kita percaya bahwa dengan berusaha maka kita akan memetik dari apa yang telah kita usahakan, optimis, ya tepatnya optimis kita terhadap apa yang baru kita kerjakan. Kemudian yang kedua kata “berdoa”, kita tahu bahwa terkadang apa yang kita anggap akan kita dapati ternyata pergi entah kemana sesuatu itu, kita hanya mendapati kekosongan keadaan yang kita inginkan.. oleh karenaya bisakah kita kemudian percaya, ya walaupun sedikit kepercayaan kita bahwa ada kekuatan yang maha, di mana kekuasaan itu sebenarnya yang mengendalikan diri kita, nasib kita, penguasa itulah yang meraup segala-galanya ketika kita mengharap, penguasa itu yang memberi kita ketika kita meminta, dan penguasa itu yang menyebabkan kita sampai bermimpi dan kemudian itu nyata-nyata hanya sekedar mimpi yang takan pernah berujung pada keadaan nyata bahwa mimpi itu berubah wujud menjadi kenyataaan yang dapat terpegang, terpegang, terbawa ketika kita bawa, terayun ketika kita hempaskan, dan terambil ketika kita ambil.
Ah tapi bagaimana kita bias menyatukan antara berusaha dan berdoa, antara qodrariah dan jabariah? Itu semua ada pada bagaimana kita mengenggap itu benar atau palsu minimal menurut akal sehat kita.

 

Comments are closed.